Welcome

News Industri Indonesia

Selasa, 04 Oktober 2011

A. Putranto : 5 kunci Sukses Wiraswasta

A. Putranto, sudah lama dikenal sebagai salah seorang tokoh pengusaha yang bersimpati kepada para pengusaha kecil menengah.  Hal ini dikarenakan beliau juga adalah seseorang yang memiliki jiwa wirausaha tinggi. Sekalipun dengan posisi beliau sekarang sebagai seorang corporate affair dari Sampoerna Strategic, tidak membuat suami psikolog Kassandra Putranto ini lupa kepada para pelaku UKM.
Menurut beliau, baik sebagai seorang pekerja maupun pengusaha, seseorang haruslah memiliki sifat-sifat yang dapat mendukung bidang yang ditekuninya tersebut. Terlebih jika orang tersebut adalah seorang pengusaha atau entrepreneur, sifat-sifat ini akan membawa keberhasilan dalam menjalankan usahanya. Dan hal ini pula yang wajib dimiliki oleh seorang entrepreneur. Sifat tersebut adalah Disiplin, Komitmen, Jujur, Kreatif dan Inovatif, Mandiri, dan realistis.
Disiplin
Dimana berarti seorang pengusaha harus memiliki kedisiplinan dan ketepatan tinggi dalam tugas dan pekerjaan secara menyeluruh. Dengan melakukan hal ini, seorang pengusaha akan selalu berjuang untuk meningkatkan kualitan pekerjaan dan tahan terhadap daya saing. Salah satu contoh kedisiplinan adalah dengan selalu menjalankan kesepakatan yang telah dibuat, baik antara pengusaha dengan pekerja, maupun antara pengusaha dengan klien usaha. Disiplin bermakna dalam melaksanakan kegiatan, wirausahawan harus memiliki ketepatan komitmen terhadap tugas dan pekerjaan secara menyeluruh antara lain ketepatan terhadap waktu, peningkatan kualitas pekerjaan, dan sistem kerja.
Komitmen
Komitmen adalah kesepakatan mengenai sesuatu hal yang telah dibuat, baik terhadap diri sendiri maupun dengan orang lain. A. Putranto menambahkan, bahwa sebagai seorang pengusaha haruslah memiliki komitmen yang jelas, terarah, dan berorientasi pada kemajuan usaha yang digelutinya tersebut. Seorang pengusaha haruslah selalu berjuang teguh menjaga komitmen agar mendapatkan kepercayaan konsumen, seperti yang A. Putranto lakukan.
Jujur
A. Putranto pun menambahkan bahwa kejujuran adalah modal utama bagi para wirausahawan. Kejujuran akan segala hal seperti produk dan jasa yang dijual, promosi, dan lainnya.
Kreatif
Sebagian besar usaha kecil saat ini mengedepankan ide dan kreativitas sebagai modal utama mereka. Dengan tidak mengikuti tren, mereka menggebrak pasar masyarakat dengan produk dan jasa yang benar-benar baru dan bisa diterima dengan baik oleh para konsumen. Kreativitas dan inovasi terus menerus akan menjadi kunci penentu sukses berwiraswasta.
Realistis
Wirausahawan juga selalu berpikir realistis dengan kemampuan menggunakan fakta dan realitas sebagai landasan berpikir yang rasional dalam setiap pengambilan keputusan maupun tindakan/perbuatan.
Menurut Arsono Putranto, jika para pelaku UKM menerapkan hal-hal ini dalam menjalankan usaha mereka, bisa dipastikan UKM di Indonesia akan berkembang pesat dan menjadi salah satu pilar penyokong ekonomi Indonesia. Bahkan mengacu pada laporan Badan Pusat Statistik, Pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil triwulanan pada triwulan II tahun 2011 naik sebesar 1,48 persen (q-to-q) dari triwulan I tahun 2011, pada triwulan I tahun 2011 naik sebesar 1,26 persen dari triwulan IV tahun 2010.

Sumber : Kompasiana

Senin, 03 Oktober 2011

PERCEPAT PATEN GRANTED DENGAN MEDIASI

“Hak Kekayaan Intelektual (HKI) merupakan sebuah tolak ukur dari keberhasilan suatu lembaga dalam menghasilkan karya-karya dibidang perekayasaan. Perkembangan data HKI BPPT terbilang memiliki prestasi yang cukup baik dalam hal jumlah sertifikat HKI yang dimiliki. Hal ini dibuktikan dengan perkembangan data HKI dari tahun 2006 yang masih berjumlah 11. Tetapi setelah dilakukan mediasi di tahun 2009 menjadi 14 yang granted dan di tahun 2010 meningkat kembali menjadi 17 paten granted dari hasil pertemuan antara pemeriksa dan penemu”.
 
Hal demikian disampaikan oleh Kepala Bagian Hukum dan HKI, Biro Umum dan Humas BPPT, Ulfiandri dalam laporannya dalam acara Bimbingan Substansi Paten yang bertema Percepatan Proses Pemeriksaan Paten Melalui Mediasi, di Bogor (28/9).
Ia berpendapat, dampak dari mediasi tersebut sangat memberikan kemajuan positif. Saat ini jumlah sertifikat paten granted berjumlah 48, 12 karya desain industri dan empat karya hak cipta serta memperoleh empat sertifikat merk. “Dengan demikian, paten BPPT cukup tinggi dibandingkan dengan LPNK lainnya seperti LIPI dan Batan yang hanya berjumlah 16, ITB berjumlah 23 dan 25 diperoleh IPB, maka dari sisi inilah  hal yang sangat membanggakan,” tutur Ufiandri.

Selanjutnya dikatakan dari sejumlah paten granted telah muncul beberapa pertanyaan, seperti apakah paten tersebut mempunyai nilai ekonomi? apa menghasilkan Royalti? dan seberapa besar kontribusi kita terhadap perkembangan perekonomian nasional? Menurutnya, untuk menjawab beberapa permasalahan tersebut maka tahun 2011 telah dibentuk Majelis HKI BPPT untuk meningkatkan kualitas penemuan dan invensi dari para rekan-rekan di BPPT, serta memberikan pertimbangan HKI layak maju atau tidak layak”.
Terkait dengan mediasi, kata Arif Syamsudin dari Ditjen HKI, mengatakan fungsi mediasi untuk mempercepat paten dapat menjadi lebih bermanfaat. “Mediasi ini adalah sebagai wadah komunikasi untuk menginformasikan isi dokumen paten atau klaim yang hendak disampaikan antara inventor dan examiner,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan, pihak Ditjen HKI sangat menyambut baik adanya kegiatan mediasi tersebut yang merupakan wadah komunikasi inventor untuk dapat lebih mempercepat mendapatkan dokumen paten. “Kedepannya, diharapkan dapat lebih memaksimalkan fungsi dan manfaat dari mediasi agar mendapatkan percepatan sertifikat patennya untuk kelangsungan hasil-hasil penemuan dan antara  pemeriksa dan penemu dapat lebih kooperatif,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Paten Ditjen HKI, Razilu menerangkan mengenai trend permohonan perkembangan paten di Indonesia dan dunia internasional. “Pada dasarnya, permohonan paten dari tahun ke tahun akan terus mengalami peningkatan,” ucapnya.

Lebih lanjut dikatakan, hal demikian dikarenakan selama manusia masih berada dan hidup di dunia, faktanya manusia tersebut masih menginginkan perbaikan-perbaikan dalam kehidupannya, sehingga akan tetap dilakukan penelitian untuk memenuhi keinginan tersebut. “Namun sebaliknya apabila manusia berhenti mempunyai keinginannya terhadap perbaikan hidupnya, maka permohonan paten yang ada di seluruh dunia juga akan berhenti. Tapi tentunya jika masih berada di dunia, keinginan manusia tidak akan berhenti,” tambahnya.

Sebagai contoh, “Teknologi mobile atau cellular. Jika dicermati permohonan paten pertama kali membuat cellular fungsinya hanya satu yaitu hanya untuk berkomunikasi, tetapi sampai detik ini penelitiannya masih terus berkembang. Dengan demikian, teknologi cellular merupakan teknologi yang berkembang paling pesat jika dibandingkan dengan teknologi lainnya.

Sumber : BPPT

PAMERAN BPPT 2011, SIAP DUKUNG DAYA SAING INDUSTRI

“Sebagai salah satu dari rangkaian memperingati HUT BPPT ke-33 tahun yang jatuh pada tanggal 21 agustus, maka telah diselenggarakan seminar dan pameran. Pameran ini tentu saja bertujuan untuk mensosialisasikan, mempromosikan dan memperkenalkan 14 fasilitas milik BPPT yang siap digunakan dan 5 cluster lagi sedang dalam tahap pembangunan”. 
Hal demikian diungkapkan Kepala BPPT, Marzan Aziz Iskandar saat pembukaan Pameran yang digelar di Gedung Teknologi 2, Puspitek Serpong, Rabu (21/9). Menurutnya, BPPT telah memiliki fasilitas laboratoria yang lengkap dengan menyediakan tujuh bidang-bidang teknologi yang menjamin prioritas
Kegiatan-kegiatan di laboratoria, lanjutnya, disamping melakukan pengembangan teknologi, juga membuat type perangkat yang baru serta melakukan pengujian-pengujian untuk memberikan sertifikasi produk yang merupakan kegiatan dari sistem perekayasaan di tanah air kita.
Kepala BPPT berharap,  dengan diselenggarakannya pameran dapat mendekatkan lagi hubungan antara BPPT dengan mitranya,  baik lembaga pemerintah,  industri, swasta maupun asosiasi-asosiasi serta berbagai pihak yang berkepentingan dengan upaya meningkat daya saing industri kita dimasa yang akan datang.
Denagn demikian, “Intinya, upaya meningkatkan daya saing bangsa diperlukan dukungan dalam bentuk dukungan fasilitas, dukungan peralatan sumber daya manusia, dan disni BPPT siap memberikan dukungan”, tegas Marzan.
Berdasarkan agenda acara, pameran BPPT diadakan selama tiga hari. “Hari pertama dilakukan seminar dengan pembicara dari Kementrian BUMN dan Perindustrian serta BPPT. Dilanjutkan dengan acara temu bisnis yang akan kita fokuskan dalam 3 bidang yaitu: energi panas bumi, pupuk, serta lingkungan dan kebumian”, kata Kepala Biro Perencanaan, Y.B.S. Sananugraha, sekaligus selaku Ketua Panitia HUT BPPT.
Hari kedua, sambungnya telah dilakukan juga seminar insentif yang akan diikuti oleh penerima insentif beserta mitra-mitra industri dari penerima insentif. “Sedangkan penutupan pameran pada hari Jumat  tanggal 23 September 2011”, tambahnya.
Pameran kali ini diikuti oleh 25 unit di lingkungan BPPT yang menampilkan produk-produk dari BPPT yang sudah siap untuk dikomersialisasikan atau dikerjasamakan. Pesertanya diantaranya dari unit BRDST, Biotek, PTFM, BIT, PSTKP, Polimer, PDIS, dan sebagainya.

Sumber : BPPT

Nilai Ekspor Naik, Impor Turun


Nilai ekspor Indonesia pada bulan Agustus 2011 mencapai 18,81 miliar dollar AS atau mengalami peningkatan tipis 8,00 persen dibanding kinerja ekspor Juli 2011. Akan tetapi, bila dibanding dengan kinerja bulan Agustus 2010, ekspor mengalami peningkatan sebesar 37,05 persen.
Sementara nilai impor bulan Agustus justru mengalami penurunan tipis, walaupun masih positif jika dibandingkan Agustus 2010 dengan peningkatan 23,68 persen. Selama Januari-Agustus 2011, China masih tetap mengukuhkan diri sebagai negara sumber impor terbesar bagi Indonesia.
Kinerja hasil perdagangan internasional (ekspor-impor) Indonesia itu diumumkan Badan Pusat Statistik, Senin (3/10/2011) di Jakarta.
Jika dirinci, ekspor nonmigas Agustus 2011 mencapai 14,72 miliar dollar AS, naik 8,12 persen dibanding Juli 2011, sedangkan dibanding ekspor Agustus 2010 meningkat 25,47 persen.
Dengan kinerja itu, maka secara kumulatif nilai ekspor Indonesia periode Januari-Agustus 2011 mencapai 134,85 miliar dollar AS atau meningkat 36,58 persen dibanding periode yang sama tahun 2010. Total ekspor nonmigas periode delapan bulan itu mencapai 107,37 miliar dollar AS atau meningkat 31,43 persen. Peningkatan ekspor nonmigas terbesar Agustus 2011 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar 1,33 miliar dollar AS, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar 212 juta dollar AS.
Ekspor nonmigas ke Cina Agustus 2011 mencapai angka terbesar yaitu 1,92 miliar dollar AS, disusul Jepang 1,53 miliar dollar dan India 1,39 miliar dollar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 32,89 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar 2,06 miliar dollar AS.
Menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari-Agustus 2011 naik sebesar 33,60 persen dibanding periode yang sama tahun 2010, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 5,79 persen serta ekspor hasil tambang dan lainnya naik 28,49 persen. Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada periode Januari-Juni 2011 berasal dari
Kalimantan Timur dengan nilai 17,96 miliar dollar (18,22 persen), diikuti Jawa Barat 13,05 miliar dollar (13,24 persen) dan Riau 10,23 miliar dollar (10,37 persen).
Impor melemah Nilai impor Indonesia Agustus 2011 sebesar 15,05 miliar atau turun 7,12 persen dibanding impor Juli 2011 yang besarnya 16,21 miliar, sedangkan jika dibanding impor Agustus 2010 senilai 12,17 miliar dollar, mengalami peningkatan 23,68 persen. Dengan kinerja itu, selama periode Januari-Agustus 2011, nilai impor mencapai 114,84 miliar dollar atau meningkat 30,90 persen jika dibanding impor periode yang sama tahun sebelumnya (87,73 miliar dollar AS).
Impor nonmigas Agustus 2011 sebesar 11,25 miliar dollar atau turun 1,16 miliar dollar (9,37 persen) dibanding impor nonmigas Juli 2011 senilai 12,41 miliar dollar, sedangkan impor nonmigas selama Januari-Agustus 2011 mencapai 87,99 miliar dollar atau naik 25,18 persen dibanding impor nonmigas periode yang sama tahun 2010 (70,30 miliar dollar).
Impor migas Agustus 2011 sebesar 3,81 miliar dollar atau naik 0,01 miliar dollar (0,24 persen) dibanding impor migas Juli 2011, sedangkan impor migas selama Januari-Agustus 2011 mencapai 26,85 miliar dollar atau naik 53,96 persen dibanding impor migas periode yang sama tahun sebelumnya (17,44 miliar dollar).
Nilai impor nonmigas terbesar Agustus 2011 adalah golongan barang mesin dan peralatan mekanik dengan nilai 2,09 miliar, turun 2,79 persen dibanding impor golongan
barang yang sama Juli 2011. Sementara itu, impor golongan barang tersebut selama Januari-Agustus 2011 mencapai 15,37 miliar dollar atau meningkat 18,78 persen dibanding impor golongan barang yang sama tahun sebelumnya (12,94 miliar dollar).
Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari-Agustus 2011 masih ditempati oleh Cina senilai 16,37 miliar dollar dengan pangsa 18,61 persen, diikuti Jepang 12,10 miliar dollar (13,75 persen) dan Singapura 7,07 miliar dollar (8,04 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai 22,30 persen, sementara dari Uni Eropa sebesar 7,80 persen.
Nilai impor semua golongan penggunaan barang selama Januari-Agustus 2011 dibanding impor periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing meningkat, yaitu impor barang konsumsi sebesar 34,78 persen, bahan baku/penolong sebesar 34,88 persen, dan barang modal sebesar 14,85 persen.

Sumber: Kompas