Welcome

News Industri Indonesia

Rabu, 02 November 2011

Tawon Farmer Pickup, Cikal Bakal Carry Buatan Indonesia

 Produk Tawon Pick up, Super Gasindo Motor Corporation
Jakarta, Pengembangan mobil nasional terus berjalan. PErlahan tapi pasti, berbagai varian mulai dimunculkan ke muka publik. Salah satunya, yang terbaru dari Tawon. Namanya Farmer Pickup. Inikah cikal bakal Carry buatan Indonesia?

Dari tampangnya, sekilas, memang tidak jauh-jauh beda dari mobil-mobil pickup yang pernah malang melintang di Indonesia sebagai kendaraan niaga yang dapat diandalkan. Dan dari segi desain, terlihat mulai ada pembenahan yang mengarah pada selera pasar.

Produsennya, Super Gasindo Jaya, merancang Tawon Farmer pickup dengan platform yang sama dengan Tawon citycar. Memiliki dimensi panjang 3,6 meter, dengan lebar 1,4 meter, serta tingginya 1,7 meter.

Begitu juga dengan usungan mesin dua silindernya yang berkapasitas 650 cc, berpendingin cair. Mesin ini bisa memproduksi tenaga mencapain 20.6 Kw, dengan kecepatan maksimal sekitar 90 km/jam dan konsumsi BBM 1 liter untuk jarak 35 km.

Belum ada keterangan resmi kapan Tawon Farmer Pickup ini akan mulai dipasarkan.

Sumber : Otomotif Net

Selasa, 01 November 2011

Dukungan Pemerintah Terhadap Produk Dalam Negeri Masih Lemah

Mesin CNC produksi PT Sarimas Ahmadi Pratama milik Dasep Ahmad
JAKARTA, Keberpihakan pemerintah terhadap penggunaan produk dalam negeri seperti produk yang berkaitan logam dan mesin, dinilai masih lemah. Hal ini terbukti dalam setiap tender pengadaan barang untuk produk yang berkaitan logam dan mesin, seperti di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) pada tahun 2007- 2011 dengan nilai Rp 1,2 triliun, hanya 15 persen menggunakan produk dalam negeri.
"Pelaku industri yang tergabung dalam GAMMA (Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia) merasa prihatin atas sikap pemerintah yang kurang memberikan dukungan terhadap program penggunaan produk dalam negeri. Sementara, pemerintah sendiri secara terus menerus mengkampanyekan cinta menggunakan produk dalam negeri. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan fakta yang sesungguhnya," gugah Ketua Umum GAMMA, Dasep Ahmadi dalam keterangan persnya yang diterima NonBlok.Com, Kamis (6/10).
Padahal kata Dasep, dukungan atau keberpihakan pemerintah ini sangat diperlukan oleh pelaku industri nasional, seperti yang tergabung dalam GAMMA, di saat kondisi pasar yang mulai melemah terkait krisis Eropa dan Amerika.
Dasep mengemukakan, lemah dukungan pemerintah seperti instansi Kemendiknas ini terbukti dengan fakta terakhir ketika tender pengadaan mesin-mesin CNC (Computer Numerical Control Machine), yakni Mesin Bubut CNC/CNC Lathe dengan nilai pagu Rp 26.748.396.000,- dan Mesin Milling CNC dengan nilai pagu Rp 39.473.924.000,- pada  Agustus 2011 lalu, pihak panitia tender di Direktorat SMK Kemendiknas tetap ngotot ingin semua menggunakan barang impor.
Padahal untuk CNC Milling sudah dimenangkan oleh PT Sarimas Ahmadi Pratama, yang memiliki produk dalam negeri hasil rekayasa rancang bangun sendiri, dan telah diumumkan secara resmi melalui LPSE Kemendiknas. Namun panitia pengadaan membatalkan hasil tender dengan alasan dokumen tender yang mereka buat salah.
"Alasan yang dikemukakan pihak panitia ini tentu sangat tidak logis. Selain itu dalam data LPSE yang dimonitor oleh staf marketing PT Sarimas tidak ada satu pun perusahaan yang memberikan sanggahan sampai batas masa sanggah," tutur Dasep.
Dasep Ahmadi yang juga Ketua umum ASIMPI (Asosiasi Industri Mesin Perkakas Indonesia) menyayangkan, jika hal ini terus terjadi. Pasalnya, kondisi ini dikhawatirkan industri nasional tidak akan tumbuh dengan baik.
Selain itu, Instruksi Presiden No. 2 Tahun 2009 Tentang Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) yang ditujukan kepada para menteri kabinet diabaikan begitu saja. Apabila Inpres ini tidak bisa dijalankan dengan baik di lapangan, akan menyebabkan industri dalam negeri sulit untuk berkembang.
“Terkait kasus tersebut, saya sudah menulis surat keberatan kepada Menteri Pendidikan Nasional. Prof Dr Moh Nuh, dua bulan lalu, namun hingga saat ini belum ada tanggapan yang pasti," ujar Dasep yang dirinya pada 2009 mendapatkan penghargaan Habibie Award dari BPPT dan Penghargaan Perintis Teknologi Mesin CNC dari Kementerian Perindustrian pada 2010 yang sampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sumber : Nonblok

Asimpi nilai Kemendiknas tidak mendukung penggunaan produk dalam negeri

Mesin Pekakas Produk Indonesia
JAKARTA, Asosiasi Industri Mesin Perkakas Indonesia (Asimpi) menilai pemerintah tidak serius dengan program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) sesuai Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2009. Sebab, Asimpi melihat Kementerian Pendidikan Nasional yang lebih suka menggunakan produk impor daripada produk dalam negeri.

Sekretaris Jenderal Asimpi Muhammad Fathullah mengatakan seharusnya lembaga pemerintahan ikut mensukseskan program P3DN dengan menggunakan produksi dalam negeri dengan tingkat konten lokal tertentu. Hal itu dilakukan baik dalam pengadaan mesin maupun perlengkapan kantor. "Keberpihakan terhadap produk dalam negeri hanya lips service saja," kata Muhammad dalam siaran persnya, Minggu (18/9).

Asosiasi Industri Mesin Perkakas Indonesia (Asimpi) mencatat sejak tahun 2005-2009, kebutuhan mesin perkakas di Kementerian Pendidikan Nasional mencapai 2.000 mesin. Sayangnya dari jumlah itu, industri dalam negeri hanya memasok kurang dari 5% dari total kebutuhan.

Ketua Umum Asosiasi Industri Mesin Perkakas Indonesia (Asimpi) Dasep Ahmadi mengatakan lembaga pemerintah seharusnya konsisten dengan P3DN. Jika produk lokal dipergunakan, maka industri di dalam negeri bisa tumbuh dan menciptakan peluang kerja yang lebih besar. Jika tidak, maka 30 anggota Asimpi yang memproduksi mesin perkakas dalam negeri dan komponennya terancam gulung tikar.

Saat ini, Asimpi tengah menangani pengaduan dari anggotanya yaitu PT Sarimas Ahmadi Pratama yang sudah dinyatakan menang tender di Kementerian Pendidikan Nasional tetapi kemudian dianulir oleh panitia. Selanjutnya dilakukan tender ulang pengadaan Peralatan Bantuan Pembelajaran Perakitan Alat Pendukung Program Perusahaan (CNC Milling) untuk SMK di seluruh Indonesia pada bulan Agustus lalu.

Dalam tender ulang itu, PT Kawan Lama yang merupakan perusahaan importir produk China dinyatakan sebagai pemenang. Padahal produk mesin dari China hanya memiliki konten lokal dibawah 1%. Sedangkan produk dalam negeri, kandungan lokalnya mencapai 35%.

Dasep menilai pembatalan pemenang tender oleh Kemendiknas sebagai perbuatan yang sewenang-wenang tanpa alasan yang jelas apalagi Sarimas sudah memenuhi semua persyaratan tender. "Kami mendorong agar Sarimas menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan masalah ini," kata Dasep.

Sumber : Kontan

Senin, 31 Oktober 2011

Indonesia Terlambat 30 Tahun Kembangkan Mobnas

Mobil Ciptaan Esemka Indonesia
JAKARTA, Pengamat otomotif Soehari Sargo mengatakan sangat terlambat jika Indonesia ingin mengembangkan mobil nasional (mobnas) sendiri, karena kesempatan untuk mengembangkan mobnas sudah sejak 30 tahun lalu.

"Terlambat jika Indonesia ingin mengembangkan mobnas. Kesempatan untuk mengembangkan mobnas ada 20 hingga 30 tahun lalu, saat pasar otomotif masih diatur oleh pemerintah," kata Soehari kepada Antara, di Jakarta, Ahad.

Dia mengatakan akan sangat sulit mengembangkan mobnas saat ini pada saat pasar otomotif sudah tidak diatur oleh pemerintah. Selain itu teknologi otomotif yang digunakan saat ini sudah terlalu tinggi sehingga investasi yang ditanamkan untuk menciptakan mobnas akan sangat besar.

Menurut Soehari Sargo , jika Indonesia ingin membuat mobnas paling tidak dilakukan pada saat yang sama Malaysia membuat Proton. Jika dilihat saat ini Mobnas Malaysia tersebut dapat berkembang walaupun dengan adanya "ASEAN Free Trade Area" (AFTA) persaingan menjadi sangat ketat dengan produsen otomotif Amerika, Jepang, dan Eropa.

"Indonesia lebih baik memanfaatkan saja kemampuan yang dimiliki saat ini. Indonesia dapat menjadi basis produksi otomotif dunia, karena semakin banyak produsen otomotif dunia menggunakan komponen dalam negeri," ujar dia.

Menurut dia, Thailand lebih dulu menyadari keadaan ini sehingga saat ini pun negara tersebut telah menjadi basis produksi otomotif dunia.

Namun demikian, tidak menutup kemungkinan Indonesia dapat menjadi basis produksi otomotif dunia mengingat ekspansi besar-besaran produksif otomotif dunia untuk meraih pasar Asia dan Afrika.

"Meningkatkan produksi secepatnya merupakan tujuan produsen otomotif dunia saat ini mengingat permintaan dunia untuk otomotif cukup besar, walaupun pasar otomotif Amerika dan Jepang sedang stagnan saat ini," katanya.

Pasar otomotif di negara-negara maju saat ini sedang mengalami stagnasi lebih karena kebutuhan transportasi masal yang nyaman bagi masyarakat telah terpenuhi, ujar dia. Membeli kendaraan baru bukanlah opsi tepat bagi mereka saat ini mengingat harga minyak juga sedang melonjak.

Sumber : Republika