Welcome

News Industri Indonesia

Minggu, 09 Oktober 2011

RI-Turki Pererat Kerjasama Industri

Indonesia dan Turki sepakat meningkatkan kerja sama di bidang industri dan pengembangan teknologi untuk mengakselerasi pencapaian target perdagangan kedua negara sebesar US$5 miliar dalam 5 tahun ke depan.
 
Berdasarkan data Kemenperin, neraca perdagangan kedua negara relatif masih kecil. Nilai impor Turki dari Indonesia pada 2010 tercatat sekitar US$1,48 miliar, sedangkan ekspor Turki ke Indonesia hanya US$250 juta. Nilai impor Turki dari Indonesia ini hanya berkontribusi 0,8 persen dari total impor negara tersebut.
 
"Kerja sama industri ini diharapkan dapat memacu perdagangan Indonesia dengan Turki," kata Menteri Perindustrian M.S. Hidayat seusai bertemu dengan Menteri Sain, Industri dan Teknologi Turki Nihat Ergun di Conrad Hotel, hari ini.
 
Pertemuan bilateral yang berlangsung tertutup sekitar 1 jam tersebut dilakukan di sela-sela 2nd D-8 Ministrial Meeting on Industry yang berlangsung 4-6 Oktober di Istanbul, Turki.
 
Beberapa sektor yang dibahas dalam pertemuan bilateral itu adalah, otomotif, mesin tekstil, dan elektronik serta peralatan militer (industri pertahanan). Khusus di sektor otomotif, lanjut Hidayat, Turki berminat bekerja sama mengembangkan komponen dan mesin. "Sektor industri Turki cukup kuat."
 
Turki tercatat merupakan basis produksi pabrikan otomotif Eropa dengan total produksi mencapai lebih dari 1,2 juta unit per tahun, jauh lebih besar ketimbang Indonesia yang berkisar 800.000 unit. "Saat ini, Turki sedang mengembangan merek otomotif nasional, dan kita bisa banyak belajar dari mereka," katanya.
 
Sementara itu, di bidang mesin tekstil, Turki berencana menanamkan investasi di Indonesia untuk mendukung program restrukturisasi permesinan yang dilakukan Kementerian Perindustrian. "Saat ini, terdapat sekitar 3.000 mesin pertekstilan yang harus direstrukturisasi," katanya.
 
Mesin-mesin produksi ini umurnya rata-rata di atas 25 tahun sehingga tidak kompetitif lagi dan harus diremajakan.
 
"Dari pada kita mengimpor mesin, lebih baik bekerja sama dengan Turki untuk memproduksi mesin tekstil di  Indonesia. Dalam hal ini pemerintah bisa memberikan tax holiday. Akhir bulan ini, pembahasannya akan difinalisasi di Jakarta," jelas Hidayat.


Sumber : Kemenperin 

Tidak ada komentar: